Ketua PAEI: Reaksi Kita Lambat, Baru Bertindak Saat Kasus DBD Naik

oleh -18 Dilihat
Ketua PAEI: Reaksi Kita Lambat, Baru Bertindak Saat Kasus DBD Naik
Ketua PAEI Lampung sebut dalam mengurangi keterjangkitan dan melakukan pencegahan DBD perlu keterlibatan aktif pamong desa.

Bandarlampung- Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Provinsi Lampung Ismen Mukhtar SKM, M.Epid mengatakan bahwa dalam mengurangi angka keterjangkitan dan melakukan pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) perlu keterlibatan aktif pamong desa.

“Kita sudah tahu DBD datang di musim yang bisa diprediksi, namun reaksi kita agak lambat sehingga baru bertindak saat kasus meningkat,” katanya saat dihubungi di Bandarlampung, Selasa.

Ia mengatakan DBD sebagai penyakit musiman dapat dicegah dengan berbagai langkah pencegahan dan peran serta semua pihak salah satunya pamong desa.

“Ini bisa dicegah kalau pamong desa seperti lurah, RT bisa jadi agen pemberantasan jentik nyamuk. Sebab DBD ini bisa dicegah karena yang dihadapi nyamuk yang tinggal serta hidup di genangan air bersih dan biasanya manusia yang membuat genangan itu,” katanya.

Menurut dia langkah pemberantasan jentik nyamuk pun harus digagas dan diawasi langsung oleh pamong desa sebagai bagian terdekat dengan masyarakat.

“Pemberantasan sarang nyamuk ini tidak semua diserahkan ke petugas kesehatan saja, tapi pamong desa, lurah, RT harus ikut berjalan. Semua orang harus sadar membentuk gerakan pemberantasan jentik nyamuk, lalu ada pengukuran angka bebas jentik,” katanya.

Menurut dia pengukuran angka bebas jentik tersebut di setiap desa atau kelurahan dilakukan untuk mengetahui tingkat persebaran DBD.

“Sebaiknya ada survei setiap tiga bulan untuk mendapatkan angka bebas jentik, kalau yang datanya rendah, maka ini jadi nilai buruk untuk lurah karena garda terdepan untuk menjaga kesehatan masyarakat di wilayahnya adalah mereka,” katanya.

Dengan adanya gerakan serempak pengentasan jentik nyamuk dan pendataan daerah bebas jentik secara berkala, katanya, diharapkan dapat mencegah merebaknya warga yang terkena DBD di musim tertentu.

“Dengan adanya angka bebas jentik itu langkah intervensi, dan pengambilan kebijakan untuk mengantisipasi adanya DBD bisa dilakukan. Sebab ketika kita melihat suatu masalah pasti karena ada penyebab dan setelahnya langsung dikendalikan penyebab itu,” katanya.

Ia  mengatakan ketika kasus ditemukan terus di satu lokasi seharusnya dilihat penyebabnya dan langsung menentukan langkah intervensi dengan bantuan sistem surveilans di puskesmas yang mengolah data menjadi informasi untuk bertindak, dan mengedukasi masyarakat.

“Masyarakat juga harus peduli, genangan air di sekitar rumah seperti di kaleng bekas, tempat minum, ember, dan beragam wadah harus dibersihkan jangan sampai ada jentik nyamuk. Kita harus melakukan langkah pencegahan bersama untuk menghindari keluarga atau kolega terkena DBD,” demikian Ismen Mukhtar. (Red, DN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.