Salut! Mahasiswi Cantik Asal Malang Ini Kenalkan Teknik Baru Tangani Anak Berkebutuhan Khusus

oleh -
Mahasiswi UMM meneliti teknik "shaping" untuk terapi anak berkebutuhan khusus. FOTO: Antara

Jawa Timur – Beberapa kalangan kini menyebut anak-anak muda usia 20 tahunan sebagai Covid’s Lost Generation (generasi tersesat covid-19), seperti diungkapkan RM, salah satu member boyband Korea BTS, pada Sidang Majelis Umum PBB ke-76 tahun 2021.

Namun, apa yang dilakukan sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, sangat jauh dari kata tersesat. Bahkan, sangat tepat disebut generasi penyongsong (Welcome Generation), seperti yang disampaikan RM bagaimana pemuda sekarang harus disebut.

Berita terkait Baca: Trending BTS Bikin Heboh Sidang PBB, Sampaikan Pidato Wakili Presiden Korsel

Setelah berembuk, berdiskusi, hingga meneliti dengan terarah, mereka sepakat mengenalkan teknik “shaping” sebagai terapi untuk anak berkebutuhan khusus yang perlu pendidikan dan perlakuan khusus pula.

Gagasan terapi ini dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), dan telah lolos tahap pendanaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) Mei lalu.

Ketua Tim Nur Elizah Feby Aldiandari menjelaskan, teknik tersebut bertujuan untuk mengurangi perilaku agresi dari peserta didik yang notabene anak berkebutuhan khusus.

“Teknik ini adalah sebuah intervensi pada perilaku agar mereka dapat mereduksi perilaku agresi yang biasa muncul,” paparnya dikutip dari Antara, Sabtu (25/9/2021).

Lebih lanjut Nur menjelaskan, teknik shaping melakukan penguatan perilaku berulang kepada anak berkebutuhan khusus. Sehingga, mampu melatih fokus dalam menekan perilaku agresi.

“Dalam satu kali pertemuan, durasi yang dilakukan untuk terapi ini selama dua jam. Tim kami telah meriset sejak Juni lalu, di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Malang,” paparnya lagi.

Selama masa riset, ia mengaku kerap terkendala masa PPKM, yang membuat tim tidak bisa memberikan terapi secara langsung. Namun mereka berinisiatif melakukan pendampingan secara daring dengan orang tua.

Selain Nur, rekan yang membantunya ada Regita Meidi Septias dan Nabila Marshintawati serta dibimbing oleh dosen mereka Ahmad Sulaiman.

“Kami berharap penelitian ini bisa menjadi pilihan teknik terapi bagi anak berkebutuhan khusus bagi orang tua. Kami akan terus meneliti dan menghasilkan penelitian yang bisa menjadi alternatif serta bermanfaat,” pungkasnya. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.