Dosen Itera Teliti Tanaman Tapak Dara Untuk Obat Kanker Stadium 4

oleh -
Dosen Itera Lampung saat meneliti tanaman Tapak Dara untuk obat kanker stadium 4. FOTO: Humas Itera

Lampung – Tim dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) Lampung dari Pusat Riset dan Inovasi Material Hayati dan Material Alami tengah melakukan penelitian tentang beberapa bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai obat antikanker.

Hal ini menjadi bagian inovasi yang coba dikembangkan dari kampus.

Sekretaris Purino Material Hayati dan Material Alami Itera Rahmat Kurniawan, sebagai salah satu peneliti, menyampaikan berbagai metode bisa dilakukan guna mendapatkan senyawa organik yang bisa digunakan sebagai obat-obatan, khususnya obat-obatan kanker.

Senyawa organik bisa didapatkan dari berbagai macam bahan alam, terlebih lagi Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia.

“Contohnya pada tumbuhan tapak dara yang mudah kita temui. Pada tumbuhan itu terdapat kandungan alkaloid yang bernama vinkristin yang saat ini biasa digunakan untuk obat kanker stadium 3 dan 4,” ujar Rahmat pada Rabu (22/9/2021).

Selain itu, Rahmat menambahkan, saat ini tim peneliti Purino Material Hayati dan Material Alami Itera yang terdiri dari Prof Sukrasno, Syaikhul Aziz, Sena Maulana, Arif Ashari, serta dirinya juga sedang meneliti tanaman taxus sumatrana atau yang dikenal dengan Cemara Sumatera.

Tanaman itu memiliki senyawa organik yang bisa dikembangkan juga sebagai obat antikanker yang bernama Paclitaxel.

Sebagai upaya memperkaya kajian tentang pemanfaatan bahan alami sebagai obat, pihak Itera beberapa waktu lalu juga menyelenggarakan website seminar (webinar) bertajuk “Pengembangan Material Alami dan Material Hayati sebagai Obat Anti Kanker”, yang menghadirkan narasumber Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI Siti Nurul Aisyiyah Jenie.

Siti menyampaikan, materi tentang Silika Mesopori berbasis Mineral Alam: Modifikasi dan Potensinya sebagai Platform Deteksi Biomarker Kanker.

Selain itu, Siti juga memaparkan bahwa pada tahun 2012 terdapat 770.000 kasus kanker dan 520.000 kasus kematian karena kanker. Diprediksi kasus tersebut akan meningkat hingga sebesar 70 persen di tahun 2030.

“Salah satu penyebab kasus kematian yang cukup siknifikan karena kanker adalah karena rata-rata orang baru terindikasi kanker pada saat mereka sudah ada di stage 2 ataupun stage 3. Para peneliti Kimia LIPI sedang mengembangkan pembuatan alat deteksi dini kanker yang menggunakan bahan anorganik dari material alam dengan pendekatan nanoteknologi,” ujar Siti.

Siti menyebut, bahan yang dipilih untuk digunakan sebagai alat deteksi dini adalah silikon mesopore. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.