Ratusan Petani Kopi Beralih Tanam Kakao Tumpang Sari Pinang

oleh -
Warga saat memanen kakao. FOTO: Istimewa

Lampung Barat – Sebanyak 373 kepala keluarga yang tinggal di Desa Suka Mulya, Kecamatan Sukau, Lampung Barat, rata-rata menggantungkan perekonomiannya dengan bertani dan berkebun.

Mayoritas warga setempat masih mengandalkan komoditas kopi sebagai sumber penghasilannya  setiap tahun.

Namun, seiring dengan menurunnya harga kopi di pasaran, hingga berdampak pada hasil panen, warga mulai beralih menanam kakao dan pinang sebagai komoditas yang menunjang perekonomian mereka.

Salah satunya adalah Suwanto (41), yang memanfaatkan lahan seluas setengah hektar miliknya untuk menanam kakau dan pinang secara tumpang sari.

Suwanto dibantu ibunya mulai menanam kakao dan pinang dengan harapan memiliki penghasilan tambahan tiap minggu dan bulannya.

“Tiap minggunya kami bisa memanen hingga 50 kilogram buah kakao dari 100 batang pohon yang kami tanam,” ungkap Suwanto pada Rabu (15/9/2021).

Ia juga menaman pohon pinang yang menurutnya kini tengah digandrungi oleh masyarakat di desanya.

Pohon dengan karakteristik batang yang ramping dan menjulang ke atas ini menjadi primadona tumpang sari, karena keberadaannya tidak memakan tempat.

“Kalau pinang dalam sebulan kami bisa memanen hingga tiga karung atau sekitar 40 kilogram biji pinang basah,” terusnya.

Harga jual buah pinang pun sekarang cukup tinggi. Untuk biji pinang basah, Suwanto mengatakan kini harganya mencapai Rp11 ribu perkilogram.

“Sedangkan biji pinang kering dihargai Rp15 ribu perkilogram,” tambahnya.

Berdasarkan data, Desa Suka Mulya memiliki sekitar 390 hektar lahan yang ditanami kopi dan 120 hektar diantaranya ditanami tumpang kakao, pinang, alpukat hingga pepaya.

“Menanam kakao dan pinang merupakan alternatif warga sejak tiga tahun lalu, agar tidak terpaku menunggu panen buah kopi yang hanya setahun sekali,” pungkasnya. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.