Jangan Anggap Sepele, Ini Dampak Bila Remaja Alami Kurang Gizi Kronis

oleh -
Gizi buruk pada remaja berdampak pada lemahnya IQ anak yang dia lahirkan kelak. Foto/Ilustrasi

Pakar nutrisi dari Universitas Indonesia, Dr Rita Ramayulis, DCN, MKes mengatakan jika seorang remaja perempuan yang mengalami kurang gizi dan anemia dalam waktu lama karena terus dibiarkan, bisa menimbulkan dampak buruk pada anak yang dia lahirkan kelak, salah satunya IQ lebih rendah.

Rita mengatakan, perempuan yang kekurangan gizi kronis tidak hanya menghasilkan keturunan yang perkembangan otaknya lebih rendah, tetapi juga berpengaruh pada kognitif yang lemah katanya dalam sebuah konferensi pers daring, Sabtu (2/10/2021).

Rita yang menjabat sebagai Ketua Indonesia Sport Nutricionist Association (ISNA) itu mengatakan, masalah lain yang juga dapat muncul yakni pertumbuhan massa tubuh anak yang rendah lalu menyebabkan kekebalan kapasitas kerjanya menurun.

Akibatnya dia tidak bisa produktif, mudah lelah, memiliki keterbatasan gerak dan lainnya, diikuti keadaan metabolik yang mengarah pada penyakit tidak menular (PTM) salah satunya diabetes.

“Kalau remaja tidak segera berubah dia akan melahirkan generasi stunting. Lalu generasi stunting itu mudah sekali mengalami gangguan metabolik, terkena diabetes lebih awal,” tutur Rita.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh dan kembang sejak usia 1000 hari pertama kelahiran (HPK). Kondisi ini umumnya terdiagnosis pada saat anak berusia 2 tahun yakni saat 70 persen otaknya sedang berkembang. Potensi stunting sebenarnya bisa dilihat perjalanan 1000 hari pertama anak, salah satunya bila dia lahir dengan berat rendah (bblr). Pada kondisi ini, maka pemantauan seperti panjang badan dan berat badannya dilakukan setiap pekan.

Rita mengatakan, masalah gizi remaja yang salah satunya berkontribusi pada kejadian stunting bisa diubah melalui penerapan gaya hidup sehat termasuk asupan makanan bergizi seimbang.

“Jadi, kalau remaja berada dalam status gizi baik, berarti ketika suatu saat dia menjadi ibu, dia dalam kondisi tidak malnutrisi. Kapanpun dia akan hamil, zat gizi di dalam tubuhnya sudah siap untuk diteruskan ke janinnya,” kata dia.

Rita menekankan, makanan bergizi seimbang tak mesti mahal. Sederet makanan yang relatif ramah di kantong semisal daun katuk, kangkung, ikan kembung, tempe, buah-buahan seperti pepaya bisa menjadi pilihan demi memenuhi asupan gizi seseorang, namun tetap harus memperhatikan pengolahan yang tepat.

“Tempe yang mudah didapat sudah bisa menyelesaikan untuk pemenuhan protein anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dengan pengolahan tepat. Sayur tidak mesti mahal-mahal, kangkung jauh lebih bagus asal pengolahan tepat. Bahkan oncom pun karena kandungan gizi luar biasa,” demikian kata Rita.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.