10 Aplikasi Dengan Nama Nyeleneh Milik Pemerintah Daerah di Indonesia, Kreativitas atau Kelewat Batas?

oleh -0 Dilihat
aplikasi
Ilustrasi

Diskursus Network – Pemerintah daerah di Indonesia terus berinovasi dalam memberikan laynan kepada masyarakat melalui aplikasi digital. Namun, beberapa nama aplikasi yang digunakan justru mengundang tawa dan kebingungan di kalangan masyarakat.

Berikut adalah beberapa nama aplikasi nyeleneh milik pemerintah daerah yang cukup menarik perhatian.

1. SILEMPO (Sistem Informasi Lembaga Perkotaan) Dikembangkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, aplikasi ini sebenarnya bertujuan untuk memudahkan pengelolaan lembaga-lembaga perkotaan. Namun, nama SILEMPO terdengar cukup unik dan mengundang senyum karena dalam bahasa Jawa, “silempo” bisa berarti sesuatu yang lucu atau aneh.

2. SIMALAKAMA (Sistem Informasi Manajemen Layanan Kesehatan Masyarakat) Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan meluncurkan aplikasi ini untuk memantau dan mengelola layanan kesehatan masyarakat. Nama SIMALAKAMA berasal dari buah simalakama yang terkenal dalam pepatah “makan buah simalakama,” yang artinya situasi sulit tanpa pilihan yang baik.

3. SIJINJANG (Sistem Informasi Jalan dan Jembatan Nasional) Aplikasi milik Pemerintah Kabupaten Banjarmasin ini bertujuan untuk memantau kondisi jalan dan jembatan. Nama SIJINJANG mungkin terinspirasi dari ikan jinjang yang merupakan khas daerah tersebut, tetapi terdengar cukup nyeleneh untuk aplikasi serius.

4. SIBLENG (Sistem Informasi Pelayanan Kesehatan Keliling) Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mengembangkan aplikasi ini untuk layanan kesehatan keliling. Nama SIBLENG diambil dari kata “si bleng,” yang dalam bahasa Sunda berarti seseorang yang agak aneh atau gila, tentu saja bukan dalam arti harfiah.

5. SIKEPOH (Sistem Informasi Kepegawaian dan Organisasi Pemerintah Daerah) Aplikasi ini dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk mengelola data kepegawaian dan organisasi pemerintah daerah. Nama SIKEPOH terdengar unik karena dalam bahasa Jawa, “kepoh” berarti orang yang suka ingin tahu atau usil.

Baca juga: Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan Mengundurkan Diri

6. SIMADU (Sistem Informasi Manajemen Duka) Pemerintah Kota Semarang menggunakan aplikasi ini untuk mengelola data dan informasi terkait layanan duka cita. Nama SIMADU yang terdengar seperti “si madu” memberikan kesan yang agak kontradiktif dengan tujuan serius dari aplikasi ini.

7. SIBI (Sistem Informasi Bantuan Insentif) Pemerintah Kabupaten Sidoarjo meluncurkan aplikasi ini untuk memantau bantuan insentif bagi masyarakat. Nama SIBI bisa berarti “si biang” dalam bahasa Jawa, yang bisa diartikan sebagai sesuatu yang sering kali menjadi biang kerok.

8. SISKA KU INTIP (Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma) Aplikasi ini dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Nama SISKA KU INTIP jelas mengundang tawa dan kebingungan karena terdengar seperti frasa yang kurang serius dan lebih bersifat guyonan.

9. SIMONTOK (Sistem Monitoring Stok dan Kebutuhan Pangan Pokok) Aplikasi besutan Pemerintah Kota Surakarta ini sebenarnya bertujuan untuk memantau stok dan kebutuhan pangan pokok. Namun, nama SIMONTOK terdengar nyeleneh karena mirip dengan istilah yang sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan pangan.

10. SISEMOK (Sistem Informasi Organisasi Kemasyarakatan) Aplikasi ini dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang. Nama SISEMOK mungkin terdengar menarik bagi beberapa orang, namun dalam konteks aplikasi pemerintahan, nama ini terkesan kurang formal dan lebih seperti panggilan akrab.

Nama Aplikasi Kreativitas atau Kelewat Batas?

Kreativitas dalam pemberian nama aplikasi memang bisa menjadi nilai tambah, membuat aplikasi lebih mudah diingat oleh masyarakat. Namun, nama-nama nyeleneh seperti di atas juga bisa menimbulkan kebingungan atau bahkan kesalahpahaman mengenai fungsi dan tujuan aplikasi tersebut.

Pemerintah daerah diharapkan tetap memperhatikan aspek formalitas dan keseriusan dalam memberikan nama pada aplikasi-aplikasi mereka, tanpa mengurangi unsur kreativitas yang bisa menarik minat masyarakat untuk menggunakan layanan digital tersebut. Keseimbangan antara kreativitas dan profesionalisme sangat penting untuk memastikan aplikasi ini tidak hanya mudah diingat tetapi juga dihargai dan digunakan dengan maksimal oleh masyarakat.(DN)

Baca informasi menarik lainnya di Google Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.