Nasib Penjual Batu Akik di Pasar Tengah Bandar Lampung yang Kian Meredup

oleh -0 Dilihat

Bandar Lampung – Sepanjang teras ruko di Pasar Tengah kota Bandar Lampung banyak kita jumpai pedagang batu alam mulia baik dari batu akik, batu biasa hingga batu ternama. Kini batu-batu tersebut meredup sejak tahun 2014 silam hingga kini.

Ketenaran batu-batu tersebut populer pada tahun 2010 hingga 2013. Saat itu batu alam yang menjadi unggulan adalah batu Bacan yang berlokasi di daerah Sulawesi. Batu-batu sejenisnya kemudian bermunculan di berbagai daerah dengan nama-namanya tersendiri.

Adapun batu dari Aceh yakni Batu Giok, Batu Solar dari Padang, Batu Raflesia dan Teh dari Kota Bengkulu, hingga Lampung dikenal dengan batu Bungur Tanjung Bintang dan Batu Obsidian. Wilayah-wilayah lainnya seperti Kalimantan yang menjadi tempat penghasil Batu Berkualitas seperti Batu Blue Safir, Black Safir, Zamrut dan sebagainya.

Kini ketenaran batu alam mulia kian terasingkan lantaran banyak pemula-pemula menjual batu sintetis atau imitasi dari batu yang dicetak sedemikian rupa seperti batu alam sungguhan. Heri pendatang asal Surabaya yang kini sudah menetap di Lampung sejak tahun 70-an ini mengaku sudah hampir 30 tahun bergelut dengan usaha batu akik atau batu alam yang di jadikan assesoris jari.

Heri mengatakan usaha batu akik sangatlah mudah baik dari proses pembutan hingga pemasangan gagang batu mulianya. Meski batuk akik sudah lewat masa kejayaannya, Heri tidak putus asa dan tetap memilih berdagang. Kini Heri menjadi salah satu sesepuh penjual batu akik di pasar tengah Kota Bandar Lampung.

Heri mengatakan keuntungan dulu dengan sekarang sangatlah berbeda. Tahun 2010 hingga 2013 dari hasil penjualan batu akik, Heri bahkan bisa menabung untuk membeli tanah dan kendaraan, lantaran harga batu yang dijualnya adalah batu berkualitas seperti Bacan dengan gagang perak, Batu Giok, Batu Blue Safir, Batu Rubi Daging, Rubi Darah, dan masih banyak lagi lainnya.

Masing-masing batu mempunyai harga tersendiri mulai dari Rp.200 ribu hingga puluhan juta dan untuk gagangnya, tergantung tingkat kerumitan motif yang diinginkan baik dari gagang aluminium, titanium sampai dengan gagang perak. Harga gagangnya mulai dari Rp.300 ribu hingga Rp.1 juta.

Setiap hari Heri berangkat dari rumahnya di Kedaton Gang Badak dari Pukul 8.00 pagi hingga pulang pukul 16.00 sore dan terkadang jika ada pesanan bisa ditunggu sampai menjelang magrib.

Kini Terkadang Heri membawa keuntungan hanya Rp.200 ribu hingga Rp.500 ribu dan terkadang tidak membawa keuntungan sama sekali dalam seharian penuh.

Adapun teman-teman Heri saat ini sudah banyak yang beralih berjualan batu mulia dan alat-alat pusaka seperti kris, pedang, dan bahan-bahan pusaka lainnya. Heri berharap ke depan batu alam bisa kembali berjaya seperti beberapa tahun silam.(Liting – Diskursus Network)

Baca : Polda Metro Jaya Kembali Tangkap Petinggi Khilafatul Muslimin di Lampung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.