Potensi Gula Semut Lampung Mulai Lirik Pasar Ekspor

oleh -
Dosen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Otik Nawansih saat bersama warga pengusaha gula semut. FOTO: Humas Unila

Lampung – Dosen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Otik Nawansih berharap, produk gula semut di Provinsi Lampung dapat menembus pasar ekspor.

Hal itu karena sejak 2012 dirinya telah melatih dan mendampingi masyarakat membuat gula merah kristal atau gula semut.

Jika biasanya hanya dinikmati kalangan masyarakat di pedesaan, gula semut kini menurut Otik sudah menyasar kalangan menengah ke atas.

Apalagi masyarakat modern yang menerapkan gaya hidup sehat dan menjadikan gula merah sebagai pengganti gula putih untuk konsumsi sehari-hari.

Gula semut diklaim lebih sehat dibanding gula putih karena memiliki indeks glikemik lebih rendah yaitu di bawah 40 persen.

Sedangkan indeks glikemik gula putih sekira 70 persen. Indeks glikemik menunjukkan seberapa cepat makanan berkarbohidrat diproses menjadi glukosa di dalam tubuh.

Semakin tinggi nilai indeks glikemik suatu makanan, semakin cepat pula karbohidrat dalam makanan tersebut diproses menjadi glukosa sehingga menyebabkan gula darah melonjak.

“Gula merah itu memang indeks glikemiknya lebih rendah dibanding gula putih. Untuk orang-orang seumur saya 50 tahun ke atas yang punya bakat diabet itu lebih aman pakai gula merah,” ujar Otik, dilansir dari unila.ac.id, Rabu (22/9/2021).

Namun, lanjutnya, penggunaan gula merah cetak kurang praktis dan masa simpannya cukup singkat hanya sekitar 2-8 minggu.

Inilah beberapa alasan yang membuat Otik tertarik dengan teknologi pengolahan gula semut yang memiliki masa simpan lebih lama sekitar 8 bulan hingga satu tahun.

Disamping itu, gula semut lebih praktis digunakan serta lebih bersih dan higienis.

Pada tahun 2012, Otik mendapat dana Program Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Daerah (IPTEKDA-LIPI) sebesar Rp90 juta.

Dia kemudian mencari mitra binaan pengumpul nira di Lampung Timur. Selama satu tahun, melatih dan mendampingi binaannya untuk benar-benar menguasai teknologi pembuatan gula semut.

Bahkan, Otik ikut terjun membantu pemasaran gula semut tersebut. Dia ingin Lampung memiliki sentra produksi gula semut dan menjangkau pasar luar negeri. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.