Populasi Badak di Ujung Kepunahan, Penyelamatan Melalui Konservasi Harus Ditingkatkan

oleh -
Badak Sumatera. FOTO: reuters/badak.or.id/Yabi

Lampung – Setiap tanggal 22 september selalu diperingati sebagai Hari Badak Sedunia. Peringatan yang dimulai sejak 2011 ini dalam upaya untuk menyelamatkan badak-badak yang tersisa di dunia.

Bersamaan dengan itu, pihak Taman Nasional Way Kambas (TNWK) bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggelar webinar upaya penyelamatan Badak Sumatera dan Jawa, pada Rabu (22/9/2021).

Populasi Badak Sumatera yang saat ini terpantau ada di kawasan hutan konservasi Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, TNWK di Lampung, dan hutan kawasan Kutai Barat di Kalimantan Timur.

Dalam webinar bertajuk “Penerapan Teknologi dalam Konservasi Badak Sumatera” itu diketahui, pada tahun 1991 diperkirakan populasi Badak Sumatera mencapai 536 sampai 920 ekor.

Namun, pada 2001 jumlahnya menurun menjadi 216 ekor. Pada 2006 sekitar 145-200 dan pada 2013 diperkirakan jumlahnya kurang dari 100 ekor.

Berdasarkan hasil pemantauan, Badak Sumatera yang berada di wilayah taman nasional Leuser yang terbentang di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara, terpecah dalam beberapa kantong terisolasi. Ada di Leuser bagian Barat dan Timur yang tidak bisa menyatu.

“Di Leuser bagian Timur jumlahnya terbatas, bahkan ada kantong yang sudah tidak berkembang biak,” sebut Dedi Yansyah, Koordinator Perlindungan Satwa Liar Forum Konservasi Leuser (FKL) yang juga Koordinator Konsorsium Badak Utara.

Anggota FKL sendiri terdiri dari Forum Konservasi Leuser, ALeRT, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, dan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Dedi mengatakan, karena populasi badak di Leuser bagian Timur sudah tidak berkembang, dalam rencana aksi darurat penyelamatan Badak Sumatera diputuskan, akan dipindahkan ke Suaka Rhino Sumatera (SRS).

“Tindakan mendesak yang dilakukan adalah menangkap dan memindahkan ke fasilitas breeding center, yang sudah ada maupun yang akan dibangun. Tidak ada gunanya membiarkannya di alam liar, sebab populasinya yang kecil membuat mereka punah dengan sendirinya bila tidak ada indikasi breeding (berkembang biak),” papar Dedi.

Direktur KKH, Ditjen KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan drh. Indra Eksploitasia yang juga menjadi salah satu narasumber mengungkapkan, upaya konservasi Badak Sumatera dan Jawa ini sudah  dilakukan dengan berbagai cara.

“Kita melakukan pengembangan SRS sebagai pusat pengembangbiakan Badak Sumatera di Taman Nasional Way Lambas Lampung. Sekarang sudah terdapat tujuh ekor badak disana dan itu adalah kerja keras kita semua,” ujarnya.

Lebih lanjut Indra juga mengungkapkan, bahwa ada dua populasi badak yang perlu dilestarikan di TNWK.

“Penambahan populasi ini menggunakan sistem bayi tabung,” terusnya.

Pada bagian akhir webinar, Yulia Fitriana selaku moderator menyimpulkan dan mengimbau masyarakat sama-sama menjaga aset berharga ini untuk generasi yang akan datang.

“Kita berharap Badak yang merupakan aset besar harus dilestarikan untuk generasi kita dimasa depan. Bersama kita bisa melestarikan Badak dan selamat Hari Badak Sedunia,” pungkas Yulia. ()

Laporan Reporter: Meylinda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.